TENTANG HAK, KEWAJIBAN , DAN ORANG-ORANG YANG LUPA DIRI
Ada sebagian orang yang, ketika menjadi orang tua, sibuk berbicara tentang hak-haknya. Mereka menuntut anak-anak untuk berbakti, patuh dan menghormati, tetapi lupa bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sudah menjadi orang tua yang layak dihormati?
• Ketika anak terluka, mereka tak ada.
• Ketika anak butuh, mereka tak peduli.
Mereka hanya ingat bahwa anak wajib berbakti, tetapi lupa bahwa orang tua pun punya kewajiban.
Lalu, saat menjadi mertua, mereka berbicara panjang lebar tentang hak-hak mereka.
Menantu harus begini, menantu harus begitu.
Menantu harus memperlakukan mertua layaknya orang tua kandung. Tapi, apakah mereka sudah bersikap layaknya orang tua?
Ketika menantu butuh dukungan, mereka hanya berkata: Aku ini mertua, bukan orang tuamu.
Saat menjadi kakak, mereka menuntut hormat dari adik-adiknya.
Saat menjadi paman atau bibi, mereka ingin diperlakukan dengan penuh takdzim.
Tapi saat mereka sendiri menjadi adik atau ponakan, mereka merasa berhak untuk selalu dimanja. Ketika butuh bantuan, mereka berkata: Aku ini lebih muda, seharusnya dibantu! Tapi saat diminta untuk menghormati yang lebih tua, mereka lupa caranya.
Orang-orang seperti ini memandang hubungan hanya sebatas untung dan rugi.
• Ketika ada manfaat, mereka mendekat.
• Ketika merasa tak lagi perlu, mereka menjauh.
Jika ada perbedaan pendapat, mereka menganggap orang lain membangkang tidak manut PDA dirinya.
Jika ada yang menyakiti mereka, mereka mengumbar cerita ke mana-mana, seolah merekalah korban yang paling menderita.
Tapi jika mereka yang menyakiti, mereka bertindak seakan tak terjadi apa-apa.
Biasanya, orang-orang seperti ini tidak memiliki jiwa kebapakan atau keibuan.
• Hati mereka kaku, perasaan mereka tumpul.
• Jika tak sejalan dengan pikirannya, mereka siap membuka aib orang lain. Bahkan
• jika tak ada aib, mereka akan menciptakan cerita sendiri.
Namun, Tuhan tak pernah tidur. Balasan mungkin tak datang seketika, tetapi pasti tiba pada waktunya. Tanpa mereka sadari, Tuhan perlahan menjauhkan orang-orang baik dari hidup mereka. Mereka kehilangan orang-orang yang dulu mengasihi, memahami dan memaafkan. Hingga akhirnya, mereka hanya dikelilingi orang-orang yang serupa atau bahkan lebih buruk dari mereka sendiri.
Dan sering kali, karma datang di hari tua,
di saat mereka tak lagi bisa lari, tak lagi bisa menghindar, tak lagi punya siapa-siapa.
Maka hati-hatilah
Jangan pernah merasa aman hanya karena berurusan dengan orang yang pemaaf.
Sebab justru, balasan yang paling dahsyat,
sering kali datang dari mereka yang memilih diam, tapi tak pernah lupa.
Reshared : Hamba Allah














